Kamis, 05 Juli 2007

Nutrisi Tepat Bagi Penderita Gagal Ginjal Kronis Tanpa Hemodialisa

http://www.ikcc.or.id/

Ginjal Merupakan Organ Yang Sangat Penting Bagi Kelangsungan Hidup Manusia. Fungsi Ginjal Antara Lain Membuang Sisa-sisa Makanan Yang Tidak Diperlukan Tubuh, Membuang Sisa Obat, Mengatur Kadar Garam Dalam Tubuh, Mengatur Jumlah Cairan Dan Membuat Zat Yang Membantu Pematangan Sel Darah Merah.

Nutrisi Tepat Bagi Penderita Gagal Ginjal Kronis Tanpa Hemodialisa

PENDAHULUAN
Ginjal merupakan organ yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Fungsi ginjal antara lain membuang sisa-sisa makanan yang tidak diperlukan tubuh, membuang sisa obat, mengatur kadar garam dalam tubuh, mengatur jumlah cairan dan membuat zat yang membantu pematangan sel darah merah.
Mengingat fungsinya sangat banyak dan penting, kerusakan fungsi ginjal tentu akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup dan kenyamanan penderita gangguan fungsi ginjal. Pasien akan merasa mual, tak ada nafsu makan, lesu, kurang darah dan tubuhnya bengkak.
Pada keadaan lanjut, tubuh perlu bantuan alat cuci darah untuk membuang zat sisa yang tak dapat dikeluarkan lagi oleh tubuh. Namun bila keadaan ini belum terjadi, sebaiknya pasien dan keluarga mengetahui apa yang dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal dan memperbaiki keadaan fisik pasien.
Makanan merupakan zat yang diperlukan oleh tubuh, namun tidak seluruh bagian dari makanan dapat digunakan. Demikian juga jumlah yang berlebihan tak dibutuhkan oleh tubuh, sehingga tubuh harus membuangnya. Ginjal merupakan organ yang bertugas membuang zat sisa. Penderita gagal ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease atau GGK = CKD (kronis berarti sudah lama menderita suatu penyakit), zat sisa tak dapat dikeluarkan lagi dari tubuh. Zat sisa tersebut bersifat racun bagi tubuh, sehingga dalam jumlah tertentu mengakibatkan gejala uremia dan kelebihan kalium.


Agar fungsi ginjal penderita GGK tidak lebih cepat memburuk karena diharuskan bekerja berat untuk membuang hasil zat sisa metabolisme, maka penderita dan keluarganya harus:
1. mengetahui jenis makanan yang memberatkan kerja ginjal, agar dapat dihindari
2. mengetahui jumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh namun masih dapat dibuang sisanya oleh ginjal
3. mengetahui bagaimana cara menyiasati berbagai makanan agar dapat dimakan sesuai dengan fungsi ginjal yang ada.

Pemberian makan pasien GGK adalah untuk:
1. Menurunkan gejala yang diakibatkan oleh penumpukan zat sisa
2. Mempertahankan atau meningkatkan status gizi dengan mencukupi kebutuhan nutrisi harian penderita GGK
3. Sedapat mungkin membantu memperlambat kerusakan lebih lanjut dari fungsi ginjal.

FUNGSI GINJAL
Seperti telah disebut pada pendahuluan, ginjal berfungsi untuk membuang zat sisa seperti urea, natrium, kalium dan menyeimbangkan jumlah cairan dalam tubuh. Selain itu ginjal juga menyeimbangkan kalsium dan fosfor melalui kerja vitamin D. Keseimbangan kalsium dan fosor penting untuk menjalankan fungsi otot dan mempertahankan integritas tulang. Ginjal juga berperan dalam pembentukan sel darah merah, sehingga pada penderita GGK sering mengalami anemia.
Urea merupakan zat sisa dari protein yang kita makan. Kelebihan protein akan memperberat kerusakan ginjal dan memberikan gejala berupa rasa mual hebat. Sebaliknya jumlah protein yang kurang akan mengakibatkan kekurangan albumin, jenis protein yang beredar di dalam darah yang fungsinya antara lain membawa cairan dari jaringan tubuh untuk dibuang. Kekurangan albumin memberi gejala bengkak-bengkak yang dimulai dari tungkai hingga akhirnya seluruh tubuh.
Ginjal mengatur tekanan darah melalui pengaturan kadar natrium dan air. Natrium merupakan bagian dari garam yang terdapat pada bahan makanan, selain itu garam diperoleh dari penambahan garam dalam proses memasak.

KEBUTUHAN NUTRISI
Agar kualitas hidup penderita GGK tetap terjaga, segala kebutuhan tubuh harus terpenuhi. Kebutuhan kalori dan protein harus cukup agar tubuh penderita GGK tidak membongkar massa ototnya untuk memperoleh energi dan protein bagi kegiatan sehari-hari.

Energi
Kebutuhan energi dapat dihitung berdasar berat badan sesungguhnya dari pasien. Kebutuhan energi harus disesuaikan dengan keadaan penderita, apakah mengalami pembengkakan, kegemukan atau terlalu kurus. Rata-rata kebutuhannya berkisar 30-35 kkal/kg, namun tentunya dokter yang merawatlah yang dapat menentukan angka kebutuhan kalori secara tepat.
Energi yang diperlukan dapat diperoleh dari makanan dalam bentuk hidrat arang seperti nasi, tepung maupun gula pasir bagi penderita GGK yang tidak menderita diabetes. Bahan lain juga dapat digunakan, namun harus berhati-hati dengan kandungan zat lain yang mungkin kurang sesuai bagi penderita GGK. Contohnya, kentang dan pisang merupakan sumber energi yang cukup baik bagi orang sehat, namun tidak baik bagi penderita GGK lanjut sebab kandungan kaliumnya sangat tinggi. Sehingga bila penderita ingin makan kentang, harus diproses melalui pencucian yang tepat untuk menurunkan kadar kalium.
Cara menurunkan kadar kalium dari kentang adalah dengan mengupasnya, memotong-motong bentuk dadu ukuran kecil, merendamnya sekitar 4-6 jam dengan air dalam jumlah sangat banyak. Sebelum dimasak, cuci dulu dengan air mengalir.
Kalori yang dapat diperoleh dari 100 gram nasi atau 1½ gelas bubur yang dibuat dari 6 sendok makan beras, adalah sekitar 175 kkal. Setangkap roti tawar atau 2 gelas mie basah atau 2 gelas bihun basah juga menghasilkan kalori yang sama. Sedangkan dari 1 sendok makan gula pasir dapat diperoleh 46 kkal.
Sumber energi lain yang cukup aman bagi penderita GGK adalah minyak. Secara garis besar ada 2 jenis minyak. Minyak jenuh dan tak jenuh. Minyak jenuh adalah minyak yang pada suhu kamar bentuknya padat kecuali minyak kelapa. Minyak jenuh diperoleh dari hewan, kecuali minyak kelapa dan santan. Penggunaan minyak jenuh dalam jumlah besar sangat tidak dianjurkan karena akan mencetuskan atherosclerosis, penyempitan pembuluh darah yang berhubungan dengan penyakit jantung , stroke dan hipertensi.
Minyak tak jenuh tunggal (minyak zaitun atau olive oil) dan minyak tak jenuh ganda (minyak sayur, minyak dari biji-bijian dan minyak ikan yang hidup di laut dalam) adalah minyak yang disarankan. Bagi penderita diabetes pilihan terbaik adalah menggunakan minyak zaitun karena bila dibandingkan dengan minyak yang lain, minyak zaitun dapat memperbaiki kadar gula darah. Bila minyak ini digunakan untuk memasak, jaga jangan sampai berasap karena sifat baik dari minyak ini akan hilang.
Jumlah kalori yang diperoleh dari 1 sendok makan minyak sekitar 90 kkal. Sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan mayones dan mertega karena kandungan protein dan natriumnya cukup tinggi sehingga harus diperhitungkan.

Protein
Protein dapat diperoleh dari sumber hewan (hewani) dan tumbuhan (nabati). Contoh hewani adalah daging, ikan, telur dan susu. Protein nabati diperoleh dari kacang-kacangan, biji-bijian, padi-padian, umbi maupun jenis sayuran tertentu. Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai bahan pembangun, namun zat sisanya harus dibuang melalui ginjal. Kualitas protein menentukan jumlah protein yang dapat digunakan tubuh, sehingga juga menentukan berapa banyak zat sisa yang harus dibuang oleh ginjal. Makin baik kualitas protein, makin sedikit sisa yang harus dibuang, maka pemilihan protein yang berkualitas tinggi sangat penting.
Umumnya protein dari hewan merupakan protein yang berkualitas tinggi, sedangkan protein nabati, hanya kedelai yang kualitasnya baik. Meskipun protein hewani mempunyai kualitas tinggi, tak semua jenis protein hewani dapat dikonsumsi. Susu selain mengandung protein juga mengandung kalium yang tinggi. Putih telur mempunyai protein yang kualitasnya sangat baik, namun kuning telur sebaiknya tidak ikut dimakan karena kandungan kolesterolnya mencapai 200 – 220 mg tiap butir. Kolesterol merupakan bahan makanan yang dapat mengakibatkan atherosclerosis atau penyempitan pembuluh darah. Lauk pauk hewani selain mengandung protein juga mengandung fosfor yang banyak.
Protein nabati kualitasnya kurang baik karena kandungan asam aminonya tak lengkap, selain itu juga mengandung fosfor.
Sebaiknya jumlah protein yang dimakan harus tepat. Makan protein dalam jumlah besar mengakibatkan sampah urea tertimbun dalam darah yang mengakibatkan rasa mual, muntah, kehilangan nafsu makan dan rasa lemas. Konsumsi protein dalam jumlah terbatas (jumlah sedang sesuai kebutuhan) berdampak memperlambat kerusakan ginjal lebih lanjut. Dokter akan menentukan jumlah protein yang dapat dimakan seorang penderita GGK. Umumnya kebutuhan berkisar 0, 6 - 1 g/kg BB.
Untuk memberikan gambaran mengenai kandungan protein dalam bahan makanan adalah sebagai berikut: 70 gram ikan atau 50 gram daging atau 75 gram daging ayam tanpa kulit memberi kontribusi 10 gram protein. Segelas susu, mengandung 7 gram protein, sedangkan sebutir putih telur dari sebutir telur berukuran sedang (sebesar 70-80 gram) memberi 3-4 gram protein. Sepotong tempe seberat 30 gram atau 75 gram tahu atau 2,5 sendok makan kacang-kacangan memberi 6 gram protein.


Natrium
Natrium adalah bagian dari garam. Garam merupakan pemberi citarasa dalam makanan. Kebutuhan natrium 2000 mg/hari. Asupan berlebihan akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah, karena ginjal merupakan organ yang harus mengatur tekanan darah dengan menyeimbangkan kadar natrium dan air.
Makanan sehari-hari sudah mengandung sodium, sehingga tambahan garam tak diperlukan lagi. Satu gram garam atau 1/8 sendok teh mengandung 250 mg sodium. Sumber natrium yang lain adalah makanan yang diawetkan seperti ikan asin dan daging asap. Makanan siap saji, makanan kalengan serta makanan camilan seperti keripik dan krekers, juga mengandung natrium dalam jumlah besar. Cuka, asinan dan acar juga mengandung natrium.
Untuk mengurangi masukan natrium, sebaiknya kurangi jenis makanan yang disebut tadi, namun penggunaan garam pengganti bagi penderita GGk sangat tidak tepat karena garam pengganti menggunakan kalium.

Kalium
Kerja kalium adalah mempertahankan stabilitas membran sel agar sel dapat berfungsi, seperti syaraf menyalurkan sinyal, otot berkontraksi dan jantung berdenyut. Kekurangan kalium mengakibatkan gangguan fungsi ini sehingga kerjanya melemah, demikian juga pada keadaan kelebihan, jantung mengalami hambatan untuk memompa darah keseluruh tubuh.
Pada orang sehat, ginjal merupakan organ yang membuang kalium yang berlebihan. Pada penderita GGK stadium lanjut, fungsi pembuangan ini terganggu, maka sangatlah penting mempertahankan kadar kalium dalam darah dengan mengontrol asupan dari makanan maupun obat-obatan.
Kalium adalah mineral yang terdapat dalam sayur dan buah-buahan. Kalium dalam darah berasal dari makanan, pemecahan sel-sel tubuh akibat asupan makanan yang kurang dibandingkan kebutuhan dan dapat pula berasal dari obat-obatan atau akibat penggunaan obat. Maka penderita GGK harus selalu berkonsultasi dengan dokter bila akan mengonsumsi obat selain yang diberikan oleh dokter.
Kentang merupakan makanan pokok yang tinggi kalium. Agar kadar kaliumnya berkurang, kupaslah kentang dan potong-potong seukuran dadu. Kemudian direndam dalam air yang sangat banyak selama 6 jam. Sebelum dimasak, bilas lagi.
Buah yang dikeringkan mengandung kalium yang sangat banyak, seperti kismis, sukade, prune dan korma. Buah segar dan jus juga mengandung banyak kalium, terutama pisang, tomat, jeruk, air kelapa dan belimbing. Sayuran yang tinggi kadar kaliumnya adalah bayam.
Agar kadar kalium dalam buah dapat dikurangi, sebaiknya buah dimasak seperti dibuat stup, dibuat koktil atau dimasak di microwave hingga airnya sebagian keluar. Agar kalium dari sayur dapat dikurangi, potong-potong sayur sebelum dicuci dan masak dengan menggunakan banyak air. Konsumsilah sayurnya tanpa mengonsumsi airnya.

Bagaimana dengan vitamin?
Meskipun dengan pembatasan jumlah makanan mengakibatkan tubuh kekeurangan asupan vitamin dan mineral, hendaknya penderita tidak mengonsumsi vitamin kecuali dengan persetujuan dokter yang merawat, sebab vitamin yang berlebih juga harus dibuang oleh ginjal. Penggunaan lebih dari kebutuhan akan memaksa ginjal untuk bekerja keras.

Bagaimana mengatur jumlah air?
Pada penderita GGK stadium awal, fungsi ginjal untuk mengatur jumlah cairan tubuh masih baik. Bila cairan tubuh sedikit, ginjal menahan air dalam tubuh, bila tubuh terlalu banyak cairan, maka ginjal membuangnya melalui proses berkemih. Pada saat fungsi ginjal terganggu, pengaturan cairan harus dilakukan oleh penderita sendiri yaitu membatasi cairan yang masuk sesuai kemampuan tubuh mengeluarkannya.
Secara umum, jumlah cairan yang boleh dimakan dan diminum adalah sejumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam 24 jam ditambah 500 ml. Namun keadaan ini tak berlaku pada keadaan demam atau suhu ruangan yang sangat tinggi.
Pada keadaan dimana produksi urin sangat kurang, jumlah cairan juga sangat terbatas. Menyiasati rasa haus adalah dengan membekukan air minum. Mengulum es cepat menghilangkan rasa haus dengan menggunakan jumlah air yang sedikit.

KESIMPULAN
Penderita GGK dapat memperbaiki kualitas hidupnya dengan cara mengurangi gejala GGK melalui pemilihan makanan yang sesuai dengan kemampuan fungsi ginjal. Menderita GGK tidak berarti penderita tidak bolek menikmati makanan lagi. Pemilihan bahan makanan dan jumlah nutrisi yang tepat dapat mempertahankan fungsi ginjal yang masih ada.

Dr Endang Darmoutomo MS SpGK
RS Siloam Gleneagles – Lippo Karawaci

Tidak ada komentar: