Kamis, 05 Juli 2007

Lenyapnya Kerajaan Pakuan Lama

Kisah otentik dan langka tentang lenyapnya kota Pakuan lama (Hindu Pajajaran).
Setelah Kerajaan Galuh (sebelah Timur Pajajaran) jatuh ke kesultanan Cirebon, akhirnya Kerajaan Sunda yang tersisa hanyalah Pakuan (Barat Pajajaran) di Bogor.

Pada akhirnya, kerajaan terakhir dari Sunda inipun tidak dapat menghalangi kekuatan angkatan perang Islam dari Barat, yaitu kesultanan Banten.

Setelah melewati pertarungan yang dashyat, dalam beberapa minggu pertempuran akhirnya Istana Pakuan di Bogor berhasil dikuasai (1568, setahun sebelum meninggalnya Sunang Gunung Jati).

Rajanya, yang merupakan cucu dari Raja Siliwangi yang terkenal dan juga seluruh keluarganya harus memeluk Islam sebagai agamanya, dan memberikan kekuasaan untuk melanjutkan kerajaan dibawah pemerintahan Kesultanan Banten.


Kelompok kedua dari kerajaan Galuh ini, yang beranggotakan 40 pengawal yang dipimpin oleh panglimanya, menolak untuk masuk Islam, dan akhirnya menyingkir dari ibukota Pakuan ke desa Cibeo, Lebak, keberadaan mereka sekarang dikenal sebagai suku Baduy.

Sedang kelompok ketiga; kelompok pendeta, yang merupakan ulama kebatinan sepuh, dipimpin oleh ketuanya yang sangat karismatik, menolak kedua pilihan diatas, yaitu memeluk agama Islam, atau menyingkir dari kotaraja.

Akhirnya Sunan Gunung Jati, ayah dari Maulana Hasanuddin sipenguasa, bernegosiasi dengan ketuanya untuk meninggalkan istana dan dijanjikan akan diberikan daerah yang dapat dipergunakan untuk meneruskan kepercayaannya. Setelah negosiasi panjang dan melelahkan, hasilnya hanya jalan buntu, akhirnya Sunan Gunung Jati, yang pada saat itu telah menduduki jabatan tertinggi dari kesufian yaitu Wali Qutub (pemimpin para wali), akhirnya bermunajat kepada Allah, agar Istana Pakuan, yang berisi ulama kebatinan sepuh tersebut, dipindahkan kedunia lain, seperti yang kita kenal dengan Alam Jin.

Allah mengabulkan munajatnya tersebut. Hingga saat ini, tidak ditemukan artifak atau batuan atau apapun sisa dari Istana Pakuan kuno yang diyakini berada disekitaran Kebun Raya Bogor. Cerita mengenai Raja Pakuan dan keluarganya yang akhirnya memeluk Islam adalah sebagai berikut:

Secara administratif, kerajaan Pakuan dinamakan "Kadipaten Pakuan". Rajanya menjadi Adipati (Gubernur) dibawah kesultanan Banten. Raja dan keluarganya merasa bahagia dengan agama Islam yang dipeluknya, keturunannyapun yang merupakan perkawinan antara Putri dan Anak dari Sultan Banten, akhirnya diberi gelar Sultan dari kerajaan Islam Pakuan. Sultan terakhir dari kerajaan muslim Pakuan adalah Sultan Muhammad Wangsa II.

Setelah Banten menjadi lemah akibat penghianatan Sultan Haji, yang merupakan anak dari Sultan Tirtayasa yang terkenal itu, akhirnya mengalami masa kemunduran. Akhirnya diawal abad ke 19, sekitar tahun 1815, merupakan tonggak bersejarah bagi Muslim Pakuan, Sultan Muhammad Wangsa II meninggalkan Istana Pakuan untuk mengasingkan diri hingga akhir hayatnya.

Banyak yang menyangka bila beliau telah menjadi wali Allah sebelum meninggalnya. Dengan meninggalkan segala kekuasaan yang dimilikinya terhadap rakyat Pakuan, memilih menjadi ulama Islam yang melindungi rakyat lemah, dan berjalan dijalan Allah dengan berdakwah keseluruh tanah Sunda dan Indonesia.

Kisah Para Wali

1 komentar:

Asyraf mengatakan...

terima kasih. ada persamaan dengan artikel di Wikipedia - http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Gunung_Jati