Kamis, 05 Juli 2007

Ajal Ki Ageng Pengging

Disusun dari berbagai sumber:
Sebagai Senopati kerajaan Demak, suatu ketika Sunan Kudus diberi tugas untuk mengatasi seorang murid Siti Jenar yang tidak mau tunduk kepada panggilan Raden Patah selaku Raja Demak.

Murid Siti Jenar itu bernama Ki Ageng Pengging, nama aslinya Kebo Kenanga.
Dia adalah cucu Raja Pengging yang bernama Prabu Handayaningrat, Prabu Handayaningrat itu adalah menantu Raja Majapahit.

Mula-mula Patih Wanasalam dari Demak sudah pernah mengingatkan akan sikap Ki Ageng Pengging yang tidak mau menghadap ke Demak.
Sikap itu dapat dianggap sebagai pembangkangan atau memberontak.
Namun atas saran Patih Wanasalam Ki Ageng Pengging masih diberi waktu tiga tahun untuk erenungkan sikapnya itu.

Setelah waktu tiga tahun ternyata Ki Ageng Pengging masih belum mau menghadap ke Demak juga. Maka Raden Patah kemudian mengutus Sunan Kudus untuk datang ke Pengging atau Pajang.
Persoalan Ki Ageng Pengging ini cukup rumit. Dia sehari-hari hanya dikenal sebagai seorang petani biasa, seorang petani yang juga merangkap guru agama berfahamkan Manunggaling Kawula Gusti karena dia adalah murid Siti Jenar.


Sunan Kudus merasa tidak pantas membawa sejumlah pasukan kerajaan ke Pengging. Maka dia mengajak tujuh orang muridnya yang pilihan.
Mereka hanya mengenakan pakaian biasa,yang masing-masing berkemampuan lebih hebat dari sepuluh prajurit biasa.

Walaupun Ki Ageng Pengging tidak mempunyai bala tentara yang kuat tapi dia mempunyai kekuatan tersembunyi, di lubuk hati bekas senopati, perwira dan prajurit kerajaan Pengging yang sekarang telah berubah menjadi petani semua.

Jelasnya para petani itu sewaktu-waktu dapat mempergunakan keahlian mereka selaku prajurit kerajaan bila sewaktu-waktu Pengging dan Ki Ageng Pengging di ganggu orang.

Sepuluh hari sebelum Sunan Kudus datang ke Pengging. Saudara Ki Ageng Pengging yang bernama Ki Ageng Tingkir meninggal dunia. Jadi Ki Ageng Pengging masih dalam suasana duka cita dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamarnya.

Ki Ageng Tingkir adalah saudara seperguruan Ki Ageng Pengging sewaktu berguru kepada Siti Jenar. Jadi Ki Ageng Pengging merasa sangat kehilangan ditinggal orang yang sefaham dengan dirinya.
Perjalanan Sunan Kudus dan murid-muridnya, sampai di utara Kali Cemara, karena kemalaman mereka menginap di dalam hutan dengan membuat kemah.

Pada malamnya harinya Sunan Kudus memerintahkan muridnya untuk membunyikan Bende Kyai Sima yang dibawa dari Demak. Bende itu adalah barang pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus. Ketika Bende dipukul bunyinya mengaum seperti harimau.

Suara auman itu sampai terdengar ke desa-desa sekitarnya sehingga para penduduk desa merasa ketakutan.
Esok harinya para penduduk desa masuk ke dalam hutan untuk membunuh harimau yang semalam mengganggu tidur mereka. Tapi mereka tidak menemukan harimau yang dicarinya. Hanya bertemu dengan Sunan Kudus beserta muridnya.

"Apakah Tuan tidak mendengar suara harimau mengaum semalam ?" tanya tetua desa.
"Tidak !" jawab Sunan Kudus. "Andai kata kami melihat harimau tentu kami tidak berani bermalam di sini dan segera lari ke desa."
"Sungguh mengherankan, kami tidak tidur semalaman karena kuatir harimau itu datang ke desa kami," kata tetua desa.
"Kalau begitu namakan saja desamu ini Desa Sima (harimau) karena kau mendengar suara harimau padahal tidak ada harimau sama sekali," kata Sunan Kudus.

Penduduk desa menurut dan Sunan Kudus pun meneruskan perjalanannya ke Pengging.
Sampailah mereka di sebuah sungai yang airnya keruh. Murid Sunan Kudus yang sudah kehausan bermaksud meminum air sungai itu. Tapi Sunan Kudus melarangnya.
"Jangan minum air di sini, air sungai ini terlalu butek (keruh)" kata Sunan Kudus. Dan hingga sekarang sungai itu dinamakan Sungai Butek atau Kali Butek.

Perjalanan dilanjutkan, tidak beberapa lama kemudian tibalah mereka di Desa Pengging.
Murid-murid Sunan Kudus berhenti di tepi desa, sedang Sunan Kudus berjalan seorang diri menuju rumah Ki Ageng Pengging.

Sampai di pintu rumah dia disambut oleh pelayan wanita.
"Siapakah Tuan ini ?" tanya pelayan.
"Saya utusan Tuhan, datang dari Kudus hendak bertemu dengan Ki Ageng Pengging."
"Saat ini Ki Ageng tidak dapat menemui siapapun," kata pelayan itu.
"Kalau memang Ki Ageng Pengging itu sudah masuk Islam, pasti dia tidak menolak tamu yang datang, justru akan menghormati setiap tamu yang datang. Katakan hal ini kepadanya."
Pelayan itu masuk dan mengatakan apa yang diucapkan Sunan Kudus.
Ki Ageng Pengging menyuruh pelayan itu menyilakan Sunan Kudus masuk ke ruang tamu.
Ki Ageng menyuruh istrinya membuat jamuan.

Setelah saling memberi salam dan bertegur sapa, Sunan Kudus menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu menyampaikan pesan Sultan Demak.
"Wahai Ki Ageng, saya diutus Sultan Demak untuk menanyakan mana yang kau pilih ... di luar atau di dalam? diatas atau dibawah?"
Ucapan Sunan Kudus itu adalah bahasa kiasan. Maksud yang sebenarnya adalah Ki Ageng Pengging disuruh menyatakan ketegasan sikapnya bahwa dia berada di dalam wilayah kekuasaan Demak atau menyatakan keluar dari Demak atau lepas dari kekuasaan Demak.
Yang dimaksud di atas atau di bawah artinya Ki Ageng Pengging disuruh menjawab dia lebih suka menjadi Raja atau menjadi Rakyat, menjadi bawahan Demak atau Demak yang harus tunduk kepadanya.
"Sangat membingungkan kalau saya disuruh memilih," kata Ki Ageng Pengging.
"Karena luar dalam, atas bawah adalah miliku. Saya terpaksa memilih semuanya."
"Itu serakah namanya," sahut Sunan Kudus.
"Terserah kau," kata Ki Ageng Pengging.
"Bila kau pikir aku ini Allah, memang aku ini Allah. Bila kau anggap aku ini santri, aku memang santri. Bila kau anggap aku ini raja aku ini memang keturunan raja. Bila kau anggap aku ini rakyat aku memang rakyat jelata."
"Kau dan aku dapat mati selama hidup dan hidup selama mati. Buktikanlah, aku ingin melihat," sahut Sunan Kudus.

Dalam perdebatan itu tak ada yang mau mengalah.
Akhirnya Ki Ageng Pengging harus menerima hukuman dari Sultan Demak dan juga keputusan para wali, yaitu berusaha menghilangkan ajaran Siti Jenar.
Ki Ageng Pengging ditusuk dengan keris kecil pada sikunya.
Tak ada darah mengalir tapi Ki Ageng Pengging menemui ajalnya dalam keadaan duduk bersila.
Ketika istri Ki Ageng Pengging datang menghidangkan jamuan dia terkejut mendapati suaminya sudah tidak bernafas lagi.

Sementara Sunan Kudus sudah mengajak murid-muridnya pulang ke Demak.
Nyai Ageng Pengging menjerit sejadi-jadinya sehingga seluruh Pengging menjadi gempar.
Para penduduk bekas prajurit dan senopati segera mengejar Sunan Kudus dan murid-muridnya.
Mengetahui dirinya sedang dikejar dua ratus orang, Sunan Kudus malah berhenti di bawah sebuah pohon sembari menunggu kedatangan para penduduk Pengging.

Setelah dekat Sunan Kudus membunyikan Bende Kyai Sima, lalu terjadilah keajaiban. Tiba-tiba muncul ribuan prajurit Demak yang berjalan ke arah barat dan utara.
Tapi penduduk Pengging tidak merasa takut, terus dikejarnya Sunan Kudus dan para muridnya.
Sunan Kudus berkata, "Sudahlah jangan turut campur. Kalian rakyat jelata tidak mempunyai persoalan. Adapun junjungan kalian itu memang sengaja memberontak terhadap Demak Bintoro."

Para penduduk Pengging itu tidak lagi mengejar Sunan Kudus, mereka kembali ke Pengging.

note: kisah meninggalnya ki ageng Pengging diatas, sampai saat ini masih menjadi perdebatan banyak pihak karena kisah tersbut merupakan versi yang ditulis oleh kesultanan Demak, dimana terdapat konflik kepentingan kekuasaan didalamnya. 

Tidak ada komentar: