Rabu, 11 September 2013

Kisah tragis & misterius dibalik lagu Nina Bobok

Kisah ini dicuplik dari sumber yang tidak diketahui keabsahannya, akan tetapi cerita ini beredar di kalangan penggemar kisah misteri.

Satu lagu dengan bait sederhana yang digunakan banyak orang tua untuk mengantar tidur anak - anaknya. Keliatan tidak ada yang ganjil dari lagu itu, tapi pernahkah anda coba bertanya pada seseorang tentang siapakah gadis bernama Nina dari lagu tersebut?

Beberapa dekade setelah kedatangan Cornelis de Houtmen di Banten, warga negara Belanda dari berbagai kalangan sudah memenuhi pulau Jawa dan pulau - pulau lainnya. Alkisah seorang gadis belia asal Belanda bernama Nina Van Mijk. Gadis yang berasal dari keluarga komposer musik klasik sederhana yang menetap di Nusantara untuk memulai hidup baru karena terlalu banyak saingan musisi di Belanda

Hidup Nina berjalan normal seperti orang - orang Belanda di Nusantara pada umumnya, berjalan - jalan, bersosialisasi dengan penduduk pribumi, dan mengenal budaya Nusantara. Kedengaran indah memang, tapi semenjak kejadian aneh itu keadaan menjadi berbanding terbalik. Kejadian aneh itu terjadi pada suatu malam badai, petir tak henti - hentinya saling bersahutan. Dari alam kamarnya Nina menjerit keras sekali, diikuti suara vas bunga yang terjatuh dan pecah. Ayah, ibu serta pembantu keluarga Nina mengambur kedalam kamar Nina. Pintu terkunci dari dalam, akhirnya pintu itu didobrak oleh ayah Nina.Dan satu pemandangan mengerikan disaksikan oleh keluarga itu, terlihat diranjang tidur Nina melipat tubuhnya kebelakang persis dalam posisi kayang merayap mundur sambil menjerit - jerit dan sesekali mengumpat - ngumpat dengan bahasa Belanda. Rambutnya yang lurus pirang menjadi kusut tak keruan, kelopak matanya menghitam pekat. Itu bukan Nina, itu adalah jiwa jahat yang bersemayam ditubuh Nina. Nina kerasukan.

Sudah seminggu berlalu semenjak malam itu, Nina dipasung didalam kamarnya. Tangannya diikat dengan seutas tambang. Keadaan Nina kian memburuk, tubuhnya semakin kurus dan pucat. Ibu Nina hanya bisa menangis tiap malam ketika mendengar Nina menjerit - jerit. Ayah Nina tidak tahu harus berbuat apa karena kejadian aneh seperti ini tidak pernah diduganya. Karena putus asa dan tidak tahan melihat keadaan anaknya, ayah Nina pulang ke Belanda sendirian meninggalkan anak dan istrinya di Nusantara. Pembantu rumanya pun pergi meninggalkan rumah itu karena takut. Tinggalah Nina yang dipasung dan Ibunya di satu rumah tak terurus.

Kembali lagi pada satu malam badai, namun aneh, kala itu terdengar Nina tidak lagi menjerit - jerit. Kamarnya begitu hening. Perasaan ibu Nina bercampur aduk antara bahagia dengan takut. Bahagia bila ternyata anaknya sudah sembuh, tetapi takut bila ternyata anaknya sudah....meninggalIbu Nina mengintip dari sela - sela pintu kamar Nina, dan ternyata Nina sedang duduk tenang diatas ranjangnya. Tak berkata apa - apa tapi sejurus kemudian dia menangis sesengukan. Ibu Nina langsung masuk kedalam kamarnya dan memeluk Nina erat - erat dan melepas tali tambang yang melilit tangannya. Sambil menangis Nina berkata

"Ibu.... aku takut...." Lalu ibunya menjawab sambil menangis pula"Tak apa nak, Ibu ada disini. Kamu tidak perlu takut lagi. Ayo kita makan bersama"“Aku tidak lapar, tetapi bolehkah aku meminta sesuatu?”“Apapun nak...! apapun.....!!”“Aku ngantuk, rasanya aku akan tertidur sangat pulas. Mau kah ibu nyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untukku?”Ibu Nina terdiam, agak sedikit tidak percaya dari apa yang didengar anaknya. Tapi kemudian ibu Nina berkata sambil mencoba tersenyum.“Baiklah, ibu akan menyanyikan sebait lagu.”Saya yakin anda sudah tahu lagu apa yang dinyanyikan oleh Ibu Nina. Setelah sebait lagu itu Nina terlelap damai dengan kepala dipangkuan ibunya, wajah anggunnya telah kembali. Ibu Nina menghela nafas lega, anaknya telah tertidur pulas.Tapi.....Nina tidak bergerak sedikit pun, nafasnya tidak terdengar, denyut nadinya menghilang, aliran darahnya berhenti. Nina telah tertidur benar – benar lelap untuk selamanya dengan sebuah lagu ciptaan ibunya sebagai pengantar kepergian dirinya setelah berjuang melawan penderitaan.

Konon katanya ketika anda menyanyikan lagu ini untuk pengantar tidur anak – anak anda yang masih bayi, tepat ketika anda meninggalkan kamar tempat anak anda tertidur. Nina akan datang ke kamar anak anda dan membuat anak anda tetap terlelap hingga keesokan paginya dengan sebuah lagu.

Para Pelukis Uang Kertas Indonesia

Seni dan teknik pembuatan yang tinggi diperlukan untuk membuat desain uang, sehingga uang adalah sebuah karya seni.

Siapa yang tak mengagumi keindahan gambar uang Rp.10.000 tahun 1975 atau biasa disebut sebagai uang barong?

Indonesia mulai membuat ilustrasi untuk uang kertas sendiri pada masa Orde Lama. Ilustrasi pertama dilukis oleh Oesman Effendi dan Abdul Salam. Dengan kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi penerbitan dan ilustrasi maka pada tahun 1951 pelukis Oesman Effendi dan ilustrator Abdul Salam dikirim ke Belanda untuk mempelajari cara-cara membuat ilustrasi pada uang kertas, yang nantinya akan diajarkan di tanah air.

Desainer atau perancang uang disebut dengan istilah delinavit.
Sebagian besar uang kertas Indonesia yang terbit antara tahun 1952 hingga 1988 mencantumkan nama desainer uang tersebut. 
Keterangan tersebut dapat dilihat di bagian muka uang, tepatnya di sebelah kiri bawah. Nama desainer tertulis dalam huruf kapital dan diikuti dengan tulisan "DEL.", yang merupakan singkatan dari "Delinavit" alias perancang uang. Dengan demikian kita jadi tahu siapa nama perancang uang yang kita gunakan sehari-hari.

Uang kertas pecahan Rp.5 dan Rp. 0 tahun 1950 pada era Republik Indonesia Serikat, RIS, Rp.1 dan Rp.2,5 tahun 1951/1953, Rp.1 dan Rp.2,5 tahun 1954/1956, seluruh uang keluaran tahun 1957 yaitu seri hewan, Rp.5 tahun 1958, seluruh uang keluaran tahun 1959 yaitu seri bunga, uang-uang bergambar Presiden Soekarno keluaran 1960, Rp.1 dan Rp.2,5 tahun 1961, Rp.1 dan Rp.2,5 tahun 1964, Rp.100 dan Rp.500 tahun 1977, Rp.1.000 dan Rp.5.000 tahun 1975, serta Rp.10.000 tahun 1979 tidak dicantumkan nama desainernya.

Di tahun 1980, Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) kembali mencantumkan nama perancang uang di atas uang yang mereka cetak. Dimulai dengan pencantuman nama Sudirno di uang pecahan Rp.1.000 tahun 1980 dan nama AL Roring di uang pecahan Rp.5.000 tahun yang sama. Uang kertas terakhir yang mencantumkan nama desainernya adalah pecahan Rp.500 tahun 1988. Uang yang biasa disebut sebagai uang kijang atau menjangan ini mencantumkan nama Soeripto.

Sayangnya, sejak edisi 1992, uang-uang kertas Indonesia tidak lagi mencantumkan nama perancangnya.

Umumnya, perancang uang adalah pegawai Perum Peruri. Entah apakah mereka awalnya bukan pegawai lalu direkrut karena kepiawaiannya dalam melukis, atau sejak awal memang sudah bekerja di Peruri. Yang jelas, nampak sekali Peruri begitu menghargai hasil karya para perancang uangnya. Bentuk penghargaan itu adalah dengan mencantumkan nama si perancang di bagian muka uang.

Berikut beberapa nama perancang uang Indonesia:
  1. Junalies lahir di bukittinggi, 14 juni 1924. Mulai bekerja di peruri pada 1 agustus 1955 sampai wafat di jakarta 10 september 1976.
    Karya:
    - Seri pekerja, tahun 1958, 1963 dan 1964
    - Seri sandang pangan dan sudirman pecahan 1 dan 2,5 rupiah, dan salah satu masterpiecenya yaitu Rp.10.000 barong tahun 1975 
  2. Sadjiroen
    lahir di kendal 4 maret 1931, mulai bekerja di peruri pada 12 desember 1955 sampai dengan 1 april 1987.
    Karya:
    - Seri Sudirman mulai pecahan Rp5 hingga Rp10.000.
    - Bersama Junalies ia menghasilkan desain uang Rp.10, Rp.50 dan Rp.500 tahun 1958; Rp.10 tahun 1963, serta Rp.50 dan Rp.100 tahun 1964. Entah kebetulan atau tidak, dalam kerja sama keduanya M. Sadjiroen selalu mendapat bagian mendesain bagian belakang uang (reverse), sedangkan Junalies bagian muka (obverse).
  3. Risman Suplanto
    lahir di magelang 13 september 1927 dan mulai bekerja di peruri pada 16 juli 1956 sampai dengan 1 oktober 1984.
    Karya:
    - Pecahan Rp.500 tahun 1977
  4. Heru Soeroso
    lahir di purwokerto 22 desember 1936. Mulai bekerja di peruri pada 26 september 1961.
    Karya:
    - Burung Dara Rp.100 tahun 1984
  5. AL. Roring
    lahir di gombong 15 agustus 1934, mulai bekerja di peruri pada 12 oktober 1964 sampai dengan 1 september 1990.
    Karya:
    - Sisingamangaraja Rp.1000  tahun 1987
    - Pengasah Intan Rp.5000 tahun 1980 
  6. Sudirno
    lahir di pacitan 9 juni 1942 dan mulai bekerja di peruri pada 22 juni 1965.
    Karya:
    - dr. Soetomo Rp.1000 tahun 1980
    - RA. Kartini Rp.10.000 tahun 1985.
  7. drs Soeripto Gan
    lahir di klaten 16 agustus 1946, mulai bekerja di peruri pada 4 november 1965.
    Karya:
    - Uang kertas emisi tahun 1980an
  8. Mujirun
    lahir 26 November 1958, mulai bekerja di peruri pada 1979.
    Karya:
    - Pak Harto Mesem Rp.50.000 1995.
    - Sisingamangaraja XII Rp.1.000 1987
    - rusa Cervus timorensis Rp.500 1988
    - Gunung Anak Krakatau Rp.100 1991
    - Gunung Kelimutu Rp.5.000 1991
    - Ki Hajar Dewantoro Rp.20.000 1998
    - Paskibraka Rp.50.000 1999
    - Kapitan Pattimura Rp.1.000 2001
    - Pulau Maitara dan Tidore Rp.1.000 2001
    - Tuanku Imam Bonjol Rp.5.000 2001 2001
    - Oto Iskandar Di Nata Rp.20.000 tahun 2004.
    - I Gusti Ngurah Rai Rp.50.000 tahun 2009
  9. saat ini di peruri masih ada sekitar 4 orang pelukis uang kertas, sayangnya saya belum memperoleh data tentang mereka dan akan saya update jika ada.
Selain perancang lokal, nama perancang luar negeri pun sempat menghiasi Rupiah. Ini terjadi saat Bank Indonesia masih menggunakan jasa percetakan uang luar negeri. Nama-nama asing tersebut terdapat pada uang-uang terbitan tahun 1952, atau lebih dikenal sebagai Seri Kebudayaan. 
Hal wajar, mengingat Seri Kebudayaan dicetak oleh dua perusahaan asing. Thomas de la Rue (TDLR) asal Inggris mencetak pecahan Rp.5, sedangkan Joh. Enschede en Zonen asal Belanda mencetak Rp.10, Rp.25, Rp.50, Rp.100, Rp.500, dan Rp.1.000.

Pada pecahan Rp. 5 tahun 1952, tercetak nama C.A. Mechelse sebagai perancangnya. Mechelse tak hanya merancang pecahan Rp.5, tapi juga Rp.100 dan Rp.1.000 (reverse). Pada Rp.1.000, bagian depan (obverse) dikerjakan oleh desainer lain bernama F. Masino-Bessi.
Mechelse sendiri tampaknya adalah desainer yang bekerja pada Joh. Enschede en Zonen. Selain uang Indonesia Seri Kebudayaan, namanya juga terdapat di uang Suriname pecahan 10 Gulden 1963 (dicetak oleh Joh. Enschede en Zonen) dan uang Belanda pecahan 50 guilder 1945.
Sedangkan Masino-Bessi merancang 7 uang Italia selama periode tersebut, yakni pecahan 1.000 dan 10.000 lira 1962, 5.000 lira 1964, 50.000 dan 100.000 lira 1967, 1.000 lira 1969, dan 5.000 lira 1971.

Nama perancang asing di rupiah selanjutnya adalah S.L. Hertz asal Belanda yang dikenal dengan naka Sem Hartz. Sama seperti C.A. Mechelse, ia merupakan desainer tetap Joh. Enschedé en Zonen. Ia bergabung dengan perusahaan pencetak uang yang bermarkas di Haarlem ini sejak 1936. Bersama perusahaannya ia telah menghasilkan banyak desain uang, salah satunya Rp10 tahun 1952. Selain uang, ia telah banyak merancang perangko berbagai negara. Nama Hertz juga dikenang sebagai penemu jenis huruf (font) Juliana yang sangat membantu dunia percetakan menghemat banyak tinta.

Proses pengajuan desain uang melalui tahapan yang cukup ketat mengingat tingginya tingkat kerahasiaannya.
Selama ini pembuatan gambar uang itu dilakukan dengan proses seleksi yang ketat. Lima engraver Peruri diminta untuk menggambar secara manual dengan teknik pen drawing.
Gambar-gambar tersebut kemudian diserahkan ke pimpinan BI. Begitu gambar disetujui, seniman yang membuat baru bisa mengerjakannya.
Engrave pada mata uang adalah salah satu pengaman mata uang, sehingga perlu dibuat serumit mungkin namun tetap menghasilkan gambar yang realistis.
Engrave adalah menggambar diatas plat baja, kemudian ia mengukir gambar mata uang tersebut di atasnya. Prosesnya harus melakukannya secara perlahan, garis demi garis, teliti dan tidak ada kesalahan. Engraver menggunakan pisau baja dan alat ukir khusus berujung mirip huruf V serta alat pembesar gambar di uang kertas. Komposisi gambar seperti gelap terang, bayangan, hingga dimensi, dibedakan dengan ukiran garis pada pelat baja. Proses ini tidak boleh salah sedikit pun. Jika terjadi kesalahan, master cetakan akan rusak dan Engraver harus mengulang proses engrave dari awal.

Teknik Engrave termasuk rumit, menggambar menggunakan pisau dengan teknik cukil. Sepintas mirip teknik mengukir. Namun, teknik Engrave lebih sulit karena diaplikasikan di media yang kecil dengan skala satu banding satu. Bisa dibayangkan tingkat ketelitian dan presisinya.
Waktu pengerjaan uang kertas menghabiskan waktu 3 hingga 4 bulan.

Demikian ulasan tentang para pelukis uang kertas kita. Apabila ada informasi yang lebih lengkap dan akurat, dengan senang hati akan saya tambahkan dalam tulisan ini.

dikutip dari berbagai sumber.

Kisah Tentang Terciptanya Aksara Jawa HaNaCaRaKa

Dikisahkan, ada seorang pemuda tampan yang sakti mandraguna, yaitu Ajisaka. 
Ajisaka tinggal di pulau Majethi bersama dua orang punggawa (abdi) setianya yaitu Dora dan Sembada. Kedua abdi ini sama-sama setia dan sakti. 
Satu saat Ajisaka ingin pergi meninggalkan pulau Majethi. Dia menunjuk Dora untuk menemaninya mengembara. Sedangkan Sembada, disuruh tetap tinggal di pulau Majethi. Ajisaka menitipkan pusaka andalannya untuk dijaga oleh Sembada. Dia berpesan supaya jangan menyerahkan pusaka itu kepada siapa pun, kecuali pada Ajisaka sendiri.

Pada lain kisah, di pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang sangat makmur sejahtera yaitu kerajaan Medhangkamulan. Rakyatnya hidup sejahtera. Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh seorang raja arif bijaksana bernama Dewatacengkar. Prabu Dewatacengkar sangat cinta terhadap rakyatnya.

Pada suatu hari ki juru masak kerajaan Medhangkamulan yang bertugas membuat makanan untuk prabu Dewatacengkar dia sudah pernah mengidangkan aneka jenis makanan. Ketika dia sudah kehabisan ide tentang jenis makanan apa yang belum dihidangkan kepada sang raja, dia menghidangkan hidangan yang dicampur dengan daging manusia. 
Disantaplah makanan itu oleh Dewatacengkar. Dia merasakan rasa yang sangat enak dan berbeda pada masakan itu. Dia bertanya daging apakah itu. Ki juru masak mengatrakan bahwa itu daging mahluk jelmaan yang tidak bisa sembarang disebutkan namanya meskipun kepada prabu Dewatacengkar. 
Dewatacengkar ketagihan dan berpesan supaya memasakkan hidangan daging jenis setiap hari. Dia meminta sang patih kerajaan supaya mencari daging mahluk jelmaan itu dengan segala cara agar bisa disantapnya setiap hari.

Oleh karena terus menerus makan daging manusia, sifat Dewatacengkar berubah 180 derajat. Dia berubah menjadi raja yang kejam lagi bengis. Dia menjadi tidak peduli ketika akhirnya dia tau kalau daging yang disantapnya sekarang adalah daging rakyatnya. 
Rakyatnya pun sekarang hidup dalam ketakutan. Tak satupun rakyat berani melawannya, begitu juga sang patih kerajaan.

Pada saat seperti itu, Ajisaka dan Dora tiba di kerajaan Medhangkamulan. Mereka heran dengan keadaan yang sepi dan menyeramkan. 
Dari seorang rakyat, beliau mendapat cerita kalau raja Medhangkamulan gemar makan daging manusia. Ajisaka menyusun siasat. Dia menemui sang patih untuk diserahkan kepada Dewatacengkar agar dijadikan santapan. Awalnya sang patih tidak setuju dan kasihan. Tetapi Ajisaka bersikeras dan akhirnya diizinkan.

Dewatacengkar keheranan karena ada seorang pemuda tampan dan bersih ingin menyerahkan diri. 
Ajisaka mengatakan bahwa dia mau dijadikan santapan asalkan dia diberikan tanah seluas ikat kepalanya dan yang mengukur tanah itu harus Dewatacengkar. Sang prabu menyetujuinya. Kemudian mulailah Dewatacengkar mengukur tanah. 
Saat digunakan untuk mengukur, tiba-tiba ikat kepala Dewatacengkar meluas tak terhingga. Kain itu berubah menjadi keras dan tebal seperti lempengan besi dan terus meluas sehingga mendorong Dewatacengkar. Dewatacengkar terus terdorong hingga jurang pantai laut selatan. Dia terlempar ke laut dan seketika berubah menjadi seekor buaya putih. Ajisaka kemudian dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus Dora pergi ke pulau Majethi untuk mengambil pusaka andalannya. 
Pergilah Dora ke pulau Majethi. Sesampai di pulau Majethi, Dora menemui Sembada untuk mengambil pusaka. Sembada teringat akan pesan Ajisaka saat meninggalkan pulau Majethi untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. 
Dora yang juga berpegang teguh pada perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka memaksa supaya pusaka itu diserahkan. Kedua abdi setia tersebut beradu mulut bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka berdua bertempur. 
Pada awalnya mereka berdua hati-hati dalam menyerang karena bertarung melawan temannya sendiri. Tetapi pada akhirnya benar-benar terjadi pertumpahan darah. Sampai pada titik akhir yaitu kedua abdi tersebut tewas dalam pertarungan karena sama-sama sakti.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar sampai Ajisaka. Dia sangat menyesal atas kesalahannya yang membuat dua punggawanya meninggal dalam pertarungan. Dia mengenang kisah kedua punggawanya lewat deret aksara. Berikut tulisan dan arti dari cerita itu :

Ha Na Ca Ra Ka = ada caraka (utusan)
Da Ta Sa Wa La = mereka bertengkar
Pa Dha Ja Ya Nya = sama-sama kuatnya
Ma Ga Ba Tha Nga = sama-sama menjadi mayatnya